Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.

Indonesia
Halaman depan
artikel
Rage In Peace

Rage In(terview) Peace: mengungkap arti kematian bersama Rolling Glory Jam (bagian 1)

Perjalanan Rage in Peace sejak dimainkan oleh Pewdiepie dan arti nama Timmy Malinu.

Rage In Peace

Beberapa hari sebelum dirilisnya Rage in Peace, sebuah game platformer yang akan membuatmu emosi ketika memainkannya (judulnya sudah menjelaskan). Namun tak hanya kemarahan saja yang ingin ia hadirkan untukmu, karena di sini terdapat sebuah pesan yang lebih dalam dari itu, yaitu tentang hal yang akan kita alami semua: kematian.

Di sini kami membicarakan hal itu bersama Dominikus D. Putranto, sebut saja Damas, selaku produser, penulis, dan desainer dari Rage in Peace. Mari kita simak bersama wawancara yang mengupas filosofi menarik dari game ini.

RIP ini kan awalnya dari Game Jam, boleh ceritakan dari situ bisa berkembang hingga menjadi seperti sekarang?

Sebenarnya kalau boleh dibilang, agak jauh sebelum itu ada Universo di 2014. Itu dari game jam juga. Itu sebenarnya kayak, (tempat berkreasi) buat ane pribadi dan teman-teman di studio yang suka bikin game... oiya, for the record, Rolling Glory bukan studio game, kita adalah creativity studio, jadi nggak semua orang ingin bikin game.

Kemudian pasca 2014 itu sebenarnya kami-kami yang suka bikin game itu, suka ikut game jam sebagai pelampiasan membuat game, kasarnya begitu. Bahkan sampai ada satu game jam yang kita buat sendiri di studio demi mengakomodasi itu. Akhirnya November 2014 ada Indie versus Pewdiepie yang diadakan oleh Gamejolt. [...] Itu 72 jam kita bikin game.

Nah, sebenarnya salah satu mekanik Rage in Peace yang seperti sekarang itu tercetusnya justru gara-gara tema dari game jam itu sendiri, yaitu "fun to play fun to watch". Dari situlah trigger-nya. Hadiahnya sebenarnya 10 besar hasil vote akan dimainkan oleh Pewdiepie kalo tidak salah.

Lalu pas itu kalau dari sisi story memang lagi galau-galaunya anak 25-27 yang sudah memikirkan kematian dan kawan-kawan. Kebetulan saat itu, dan memang lagi menggebu-gebu banget dalam ingin menyampaikan sesuatu melalui media game. Sebenarnya begitu sih awal mulanya.

Pas ada gamejam itu, ide yang tercetus adalah menggabungkan fun to play fun to watch itu dengan premis itu. Jadi kemarin senang banget ketika menemukan ide cerita yang ingin mati di piyama. Sudah banyak ditulis juga bahwa itu terinspirasi dari novelnya Paulo Coelho. Dari situlah, kemudian selanjutnya fun to play fun to watch itu bagaimana. Hasil dari si game jam itu sendiri sih waktu itu mekaniknya adalah pokoknya rage game yang unfair gitu. Fun to play fun to watch itu sebenarnya rage game banget ya. Platformer, rage game, seperti itu lalu kita bikin dua stage demo, dan game jam berlalu.

Dari beberapa ratus submission sih kita nomor 17. Tapi kabar baiknya Pewdiepie ternyata dia mencari game lain di luar 10 besar itu untuk dimainkan. Dia mencari-cari ada gak sih game seru lain, dan game Rage In Peace itu salah satunya. Walau secuplik 3 atau 5 menit tapi itu tuh kayak "pernah dimainkan Pewdiepie" itu jadi buzzword tersendiri. [...] Sebenarnya itu seneng banget, tapi "apa sih?!" juga. Tapi itu suatu hal yang jadi motivasi lebih juga sih.

Lalu game jam sekadar game jam, kita lanjutkan hidup. Lalu setahun kemudian ane lupa trigger-nya apa. Ane liat di Youtube tahu-tahu banyak yang mainin. Kan kita tetap keburu ada di Gamejolt tuh, jadi orang bisa download gamenya. Itu banyak Youtuber yang mainin juga dan bahkan banyak yang view-nya gila sampai 2 juta. Jadi ada video yang memainkan game ini kalau mati maka kamu disetrum.

Rage In Peace

Benar-benar fun to play fun to watch ya?

Iya dapet. Lalu di GDG Prime di Telkom (University) 2015, itu kita submit juga buat showcase dan itu kayak showcase setelah sekian lama gitu dan akhirnya tetap kena juga fun to play fun to watch-nya. Sehingga kalau dipikir-pikir itu game prototipe banget yang kacrut gitulah kayak walaupun kontrolnya segala macam tapi anehlah lompatnya, mekaniknya lucu.

Lalu awal 2016, ini dari sisi lain nih, ini dari sisi Rolling Glory secara manajemen memutuskan untuk membuat sebuah produk game yang bakal aku pegang. Sebenarnya gamenya apa belum ditentukan, tapi kalau melihat si Rage In Peace yang seperti itu dan aku pikir masih sangat sesuai. Aku juga memiliki cita-cita untuk menyampaikan sesuatu via game, aku merasa Rage in Peace itu merupakan medium yang pas. Di satu sisi dengan fun to play fun to watch itu aku merasa ini untuk... apa ya, bukan yang pasarnya niche-niche banget lah, kayak aku bisa bikin itu semi-hardcore bukan untuk casual gamer jadi untuk orang yang suka main game, tapi pacarnya juga cukup luas, dan tetap menjadi medium yang cocok untuk aku meyampaikan tentang kematian. Dan menjadi sesuatu yang menurutku kontras, paradoks, tapi menarik. Jadi membungkus cerita tentang kematian yang biasanya dibawakan dengan sedih atau dengan mencekam, tapi dengan kebodohan-kebodohan yang sebenarnya tuh yang pada akhirnya yang terjadi di kehidupan kita kan hal-hal bodoh gitu kan sebenarnya. Karena kalau kita menggali agak dalam itu ada lah makna yang bisa diambil. Nah itu, pengen menggambarkan itu dalam suatu bentuk. Jadi sebenarnya itu ingin menganalogikan kehidupan lah.

Pengalaman apa sih yang ingin disampaikan oleh game ini kepada pemainnya di akhir permainan?

Ini menarik sih, aku ngerjain Rage in Peace dari 2016 lalu ngerjain story sepanjang development selesai pada akhir 2017. Menariknya itu selama proses itu pun sebagai story writer aku berkembang secara manusia juga, jadi sebenarnya message yang ingin disampaikan di awal (development) dan agak terakhir cukup berubah sebenarnya, tapi message utamanya tetap. Jadi message utamanya kan adalah sesimpel mengingatkan kita bahwa suatu saat kita mati. Bahkan sebenarnya yang dirasakan adalah, kenapa aku sendiri lupa, suka nggak ingat kalau suatu saat kita akan berakhir. Tapi kemudian kalau agak lebih luas dipikir-pikir jarang juga ya, bahkan siapa sih teman yang dengan santai ngomong, "besok kalau kita mati gimana ya?" itu kan kayak nggak casual gitu padahal kan itu se-casual kayak, "aku mau nembak ini gimana." Padahal itu kasual dan (dekat) dengan kehidupan banget. Jadi pengen ke situ.

Jadi si Timmy ini cerita bagaimana ia menghadapi hari terakhirnya dan aku pengen orang bisa merefleksikan ke dirinya sendiri. Kalau misalnya hari ini hari terakhir tuh apa yang aku inginkan, dari situ bisa lebih detail lagi. Orang kan menikmatinya berbeda-beda ya, tapi dari perbedaan itu, orang jadi tahu apa yang diinginkannya dalam hidup, apa yang ingin kita kejar. Orang juga konsep kematiannya berbeda-beda dan itu minimal kita sendiri berusaha menggali. Kan setiap orang berbeda-beda, aku di Rage in Peace malah sengaja tidak menyinggung itu, lebih ke... dia tanya ke Grim Reaper dan ia menjawab, "Ya ane gak, ya nggaklah itu confidential." Karena ane pun gak merasa yang ane yakini, yang ane tahu sama seperti semua orang dan ane tidak ingin merusak Rage in Peace dengan hal-hal kontroversial seperti itu. Jadi fokuslah adalah kembali ke diri sendiri, ingatlah kematian, dan menurutku akan otomatis teringat akan kehidupan sehari-hari sih. Akan mengubah begitu, dengan mati terus pun akan berubah, tapi in a good way. Bukan jadi ketakutan atau apa, gitu kan. Tapi lebih ke "apa yang aku lakukan" sebelum benar-benar berakhir.

Rage In Peace

Jadi kayak semacam, game ini mengajak pemainnya untuk mencari makna kematian itu sendiri, bukan mengajarinya?

Iya iya. Jadi kalau di Rage in Peace sih menyampaikannya malah banyak dengan si Timmy atau, udah ketemu Jite kan? Si Jite malah bertanya gitu lho. Jawabannya pun sebenarnya cukup mengambang karena aku pribadi nggak merasa punya jawaban untuk semua orang.

Ada nggak sih arti nama dari Timmy Malinu?

(ngakak)

Kalau Timmy sih kemarin terpercik begitu saja. Kayak itu nama yang simpel lalu nggak macam-macam. Itu sekelas kayak John, Bob, Tim. Sesuai perkembangannya sebenarnya nama panjangnya menjadi Timothy, pada akhirnya. Lalu, lucu aja sih catchy.

Kalau Malinu itu malah random. Jadi kayak, di studio kan ada - ini agak cerita gembel gitu - di studio ini kayak sistem request gitu. Orang bisa request namanya siapa, request lagu apa. [...] kan nama artis Rage in Peace Riva Marino. Si Riva itu kalau request sukanya Malino gitu namanya. Lau ada orang - aku bahkan lupa siapa - request-nya Malinu. Kayak lucu gitu... linu. (tertawa).

Ya sudah dipake aja gitu. Tidak terasa salah, yaudah pake. Dan selanjutnya kebanyakan proses di Rage in Peace dalam penentuan nama segala macam. Aku pikir mungkin personal kita ya seperti itu, ya udah kita masukin ke dalam game. Malinu itu juga kita gak tahu itu nama (dari daerah) mana.

Itulah bagian pertama dari wawancara bersama Dominikus D. Putranto, produser, penulis, dan game designer dari Rage in Peace. Pada bagian berikutnya kami akan membahas mengenai kolaborasi dengan band indie serta game design dari game ini.

Teks terkait



Loading next content